oleh

Meniup Makanan dan Minuman Ternyata Makruh, Ini Dalilnya

Liputnews.com – Meniup makanan atau minuman panas sebelum dikonsumsi hampir menjadi kebiasaan semua orang. Tapi ternyata dalam syariat, itu termasuk perbuatan yang dilarang.

Larangan ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

Sesugguhnya Nabi Saw. melarang bernafas di dalam gelas atau meniup di dalamnya.”

Selain hadits di atas, juga ada hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata;

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ أَهْرِقْهَا. قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ

“Sesungguhnya Nabi saw. melarang meniup-niup saat minum. Seseorang bertanya, ‘Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu.’ Beliau bersabda, ‘Tumpahkan saja.’ Dia berkata, ‘Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan nafas.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat minum) itu dari mulutmu”

Melalui dua hadis ini, para ulama mengatakan bahwa meniup makanan dan minuman hukumnya makruh. Karena selain terlihat tergesa-gesa dan tidak sabar, juga menghilangkan keberkahan makanan dan minuman tersebut.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Taisir bi Syarhil Jami’ al-Shaghir berikut;

نهى عن النفخ في الطعام الحار ليبرد لانه يؤذن بشدة الشره وقلة الصبر والشراب لما ذكر في حديث آخر ان النفخ على الطعام يذهب البركة

“Dilarang meniup makanan yang panas biar segera dingin karena hal tersebut menampakkan sifat sangat rakus dan sedikit kesabaran, juga makruh meniup minuman. Hal ini karena dalam hadis lain disebutkan, ‘Sesungguhnya meniup makanan akan menghilangkan keberkahan.”

An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah adab ketika minum. Meniup minuman akan mengotori air yang diminum. An-Nawawi berkata,

والنهي عن التنفس في الإناء هو من طريق الأدب مخافة من تقذيره ونتنه وسقوط شئ من الفم والأنف فيه ونحو ذلك

“Larangan bernafas di dalam gelas ketika minum termasuk adab, karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa bisa saja mulut itu tidak sedap baunya, sehingga menimbulkan rasa jijik ketika meminumnya. Beliau berkata,

وأما النفخ في الشراب فإنه يكسبه من فم النافخ رائحة كريهة يعاف لأجلها ولا سيما إن كان متغير الفم وبالجملة : فأنفاس النافخ تخالطه ولهذا جمع رسول الله صلى الله عليه و سلم بين النهي عن التنفس في الإناء والنفخ فيه

“Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulup orang yang meniup, sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu, karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup isi gelas.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa perbuatan meniup-niup lebih parah dibandingkan sekedar bernapas pada minuman. Beliau berkata,

والنفخ في هذه الأحوال كلها أشد من التنفس

“Meniup-niup pada keadaan ini (pada gelas minuman) lebih berbahaya daripada bernapas pada wadah minuman.”

Secara kesehatan, kebiasaan meniup-niup minuman juga tidak baik untuk kesehatan. Mulut bisa jadi mengandung bakteri penyebab penyakit yang kemudian berpindah ke minuman dan masuk ke dalam tubuh. Solusi terbaik untuk hal ini adalah menunggu sampai minuman agak dingin atau mengipasnya dengan sesuatu.(*)

Komentar