oleh

Andi Ina Setelah di Kursi Ketua DPRD, tak Hanya Golkar tapi Juga Soal Gender

Liputnews.com – Andi Ina Kartika Sari ditunjuk menjadi Ketua DPRD Sulsel periode 2019-2024. Di pundaknya kini bukan sekadar Golkar, tapi juga gender.

Ina memulai sejarah baru. Ia menjadi perempuan pertama yang berhasil menduduki kursi Ketua DPRD Sulsel.

Bagi Golkar ini bukan pencapaian biasa. Ina dipandang telah menerebos kelaziman politik.

“Iya terobosan positif. Golkar membuktikan bahwa kami tidak ada perbedaan soal gender. Ini soal kapasitas,” ujar Ketua Partai Golkar Sulsel HM Nurdin Halid.

Lalu bagaimana Andi Ina berada di tengah dominasi politisi pria di DPRD Sulsel?

“Saya kira nda masalah ya. Politik itu sudah menetralisir soal gender. Antara perempuan dan laki-laki tidak ada lagi perbedaan dalam hak-hak berpolitik. Dan Golkar memulai semua itu,” terang Ina.

Ia mengatakan, Golkar telah membuka ruang lebar kepada perempuan untuk berkiprah di panggung politik. Ia sendiri merasakan bagaimana partai memberinya banyak kesempatan untuk itu.

“Golkar sudah lama menginisiasi itu. Saya merasakan itu di Golkar. Jadi di Golkar, laki-laki perempuan sama saja, masalahnya cuma satu, mampu atau tidak. Kami sudah selesai soal gender. Sekarang kami selalu bicara kompetensi,” paparnya.

Yang penting kata Ina adalah bagaimana perempuan itu menunjukkan kapasitasnya dalam politik. Sebagai representasi Partai Golkar ia punya dua tantangan sekarang.

Wajib menjaga marwah partai di Dewan. Tapi di saat yang sama ia juga harus menempatkan diri sebagai representasi semua wakil rakyat, bukan hanya Golkar.

“Nah ini tantangan saya. Ketika ditunjuk jadi ketua, ya tentu suara yang saya wakili bukan lagi Golkar, tapi semua parpol di DPRD. Apakah saya tidak mampu karena saya perempuan, kan bukan itu masalanya. Tapi sekali lagi, kompetensi,” paparnya.

Meski diakuinya, ini tentu tidak mudah. Mewakili suara semua parpol kata Ina, berarti mewakili semua rakyat. Dan menurutnya, kursi ketua ini tidak bisa dilihat dari sudut pandang kekuasaan saja.

“Ini adalah amanah. Amanah partai dan amanah rakyat. Muaranya satu, bekerja maksimal untuk kemaslahatan rakyat,” tandasnya.

Ina berharap sejarah ini juga bisa ia tularkan kepada semua perempuan di Sulsel.

“Ya paling tidak perempuan tidak boleh lagi merasa terbelakang karena gender. Bukan saja di dunia politik. Di mana saja, perempuan harus optimistis bisa lebih baik,” kuncinya. (mal)

Komentar