oleh

Pembunuhan di Sukamaju, Jeneponto dan Jagal di Gowa, Saat Kultur Kekerasan Masih Menyala-nyala

Liputnews.com – Dalam dua pekan terakhir terjadi tiga kasus pembunuhan yang dilatari oleh ekses tempramentasi kultural. Ini membuktikan di masyarakat Sulsel budaya kekerasan itu masih menyala-nyala.

“Ada ruang kosong di masyarakat kita yang belum ditambal. Ini kultur lama yang lekat. Dan eksesnya selalu kekerasan,” terang Abdillah Andi Ranggong, peneliti budaya Sulsel kepada Liputnews.com, Selasa (12/11/2019).

Di Jalan Sukamaju, Makassar, dua pekan lalu seorang pria bernama Saharuddin tewas ditusuk tetangganya di sebuah hajatan pernikahan. Ia dihujam 11 tusukan.

Lalu di Jeneponto, seorang pria terbunuh karena cekcok dengan pemilik kebun. Kemarin, sebuah kasus jagal menggegerkan masyarakat Gowa.

Seorang pria dipenggal oleh pamannya sendiri karena sengketa lahan.

Tiga kasus ini menurut Abdillah, merujuk pada motif psikologi yang sama. Ketiganya memiliki ciri serupa.

“Diawali hal sepele. Cekcok, lalu merasa terhina. Nah, di sinilah psikologi orang Sulsel. Mereka selalu merasa kalau harga diri yang disentuh harus diselesaikan secara fisik. Kekerasan,” jelas Abdillah.

Di Sukamaju, kalau melihat kronologinya kata Abdillah, sebenarnya dipicu hal sepele. Jufri (pelaku) hanya menegur Saharuddin agar tak pesta miras di dekat hajatan kerabatnya.

“Tapi Sahar ini tak terima ditegur. Dia marah. Karena merasa bahwa kalau ditegur itu menyinggung harga dirinya,” papar Abdillah.

Ini yang menurut Abdillah, penyakit kronis dari kultur kita. Kadang-kadang kata dia, pemicunya sepela, tapi dampaknya mengerikan.

“Seperti itu tadi, pemicunya cuma ditegur. Dampaknya, orang terbunuh. Dan yang membunuh masuk penjara. Inikan dampak yang tidak sebanding dengan pemicunya,” katanya.

Abdillah lebih lanjut mengatakan, kekerasan di masyarakat juga terjadi karena kesalahan menafsirkan siri’. Siri’ selalu dibawa-bawa.

“Katanya ini siri’. Padahal tidak ada kaitannya dengan siri’. Siri’ masih diterjemahkan dalam perilaku kekerasan,” jelasnya.

Begitu juga dua kasus lainnya. Di Jeneponto dan penjagalan di Gowa.

Keduanya memiliki latar sama. Yakni karakter tempramentalistik masyarakat kita.

Masyarakat kita masih cenderung menyelesaikan persoalan dengan kekerasan daripada musyawarah.

“Karena itu tadi. Selalu dianggap bahwa siri’ itu mesti diselesaikan di ujung keris. Badik. Ini yang saya sebut ruang kosong yang belum ditambal. Masyarakat kita terjebak dengan kultur masa lalu yang bangga dengan kekerasan. Dan parahnya kultur ini terus terawat. Seolah-olah itu dalil hidup orang-orang Sulsel,” papar Abdillah.

Abdillah mengatakan, orang Sulsel ini adalah orang beradab. Tahu sipakalebbi.

Prinsip saling memuliakan ini dipegang teguh turun-temurun. Jika implementasinya kata dia, selalu pada kekerasan, itu karena budaya asli kita sebenarnya sudah pudar. (man)

Komentar