oleh

Buat Nadiem dari Guru Honorer Sulsel: Kapan Kami Diangkat, Pak?  

Liputnews.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan pidato di Hari Guru, Senin (25/11/2019). Pidato Mendikbud direspons para guru honorer di Sulsel dengan beragam aspirasi. Apa saja?

Sejumlah guru menyampaikan uneg-uneg mereka. Dari suramnya masa depan, sampai sulitnya menjadi ASN.

“Saya sudah 16 tahun pak honor. Belum tahu ini, mudah-mudahan ada pengangkatan tahun ini. Kalau tidak ada, ntah kapan lagi ada,” ujar Siti Hasniah, guru honorer kepada Liputnews.com, Senin (25/11/2019).

Hasniah bercerita, ia lulusan UNM Makassar tahun 2005. Ia sempat honor di Luwu Timur selama 4 tahun.

Tahun 2009 ia pindah ke Makassar mengikuti suami yang bekerja di perusahaan swasta. Sejak 2009, era Presiden SBY, sudah ada sekitar dua atau tiga tahapan pengangkatan guru honorer.

“Tapi saya tidak terangkat karena ada kendala administrasi. Salah satunya saya pernah pindah mengabdi,” jelasnya.

Sejak lima tahun terakhir, menurut Hasniah tidak ada lagi pengangkatan guru honor.  Ia pun berharap, Mendikbud baru, Nadiem Makarim, bisa memberi terobosan berbeda dan mengangkat guru-guru honor yang telah mengabdi di atas 10 tahun.

“Jujur saya ini mulai ragu bisa terangkat. Karena usiaku sekarang sudah hampir 40 tahun. Kalau bisa berharap, kami harapkan kami yang sudah 40 tahun diberi prioritas untuk diangkat,” harap Hasniah.

Hasniah menuturkan, terangkat menjadi ASN bukan sekadar karena kebutuhan materi. Tetapi menjadi guru adalah satu-satunya harapannya kini.

“Saya nda mungkin lagi bekerja di tempat lain. Harapan saya hanya jadi guru. Karena usia nda memungkinkan lagi,” katanya.

Soal materi diakuinya, gaji guru honorer sangat miris. Tapi bagi Hasniah, itu faktor nomor dua.

“Kami bertahan karena kami berharap bisa jadi ASN. Kalau gaji, ya sudahlah, dicukup-cukupkanlah. Miris memang. Tapi mau apa lagi,” tutur Hasniah.

Senada Hasniah, Aminuddin, guru honorer di Maros mengatakan, Mendikbud harus memprioritaskan pengangkatan honorer di tahun pertama ini. Honorer kata dia, punya beban besar dalam kurikulum pendidikan, dan itu tidak sebanding dengan status sebagai honorer.

“Namanya honorer pak, kami dibebani banyak pekerjaan. Serba salah kami, kalau tidak dikerja, posisi terancam. Jadi kami harap ada pengangkatan secepatnya,”ujar Aminuddin.
Seperti Hasniah, Aminuddin juga mulai pesimis mengingat usianya yang sudah hampir kepala empat.

“Ada ribuan honorer yang merasakan beban seperti saya. Karena faktor usai pak. Anak kami besar-besar tapi kami masih honor,” ketusnya. (far)

Komentar